Bagaimana Menyajikan Informasi Keuangan Pondok Pesantren sesuai dengan Standar Akuntansi ?

Sat, 19/10/2019

Penyajian Laporan Keuangan pada Pondok Pesantren

Pondok  pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam dengan sistem pondok yang harus dapat menyusun laporan keuangan sebagai pertanggungjawaban atas sumber daya yang digunakan. Laporan keuangan yang disusun oleh pondok pesantren minimal ada empat laporan, yaitu laporan posisi keuangan, laporan aktivitas, laporan arus kas, dan catatan laporan keuangan. Pondok pesantren menyusun laporan keuangan untuk tujuan:

  1. Memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja, arus kas dan informasi lainnya yang bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan dalam rangka membuat keputusan ekonomi; dan
  2. Bentuk pertanggungjawaban pengurus yayasan pondok pesantren atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya.

Sebagai suatu entitas pelaporan, pondok pesantren harus mematuhi standar pelaporan keuangan. Dalam hal ini pondok pesantren menggunakan standar pelaporan SAK ETAP (Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik). Perihal pengakuan, pengukuran, penyajian atau pengungkapan suatu transaksi yang belum diatur secara spesifik dalam SAK ETAP, maka pengurus yayasan pondok pesantren dapat menetapkan kebijakan sendiri. Kebijakan tersebut untuk memastikan bahwa laporan keuangan yang disajikan dapat memberikan informasi yang relevan dan dapat diandalkan. Laporan keuangan pondok pesantren harus disajikan dengan relevan agar dapat digunakan oleh pengguna laporan keuangan dalam pengambilan keputusan. Selain itu, laporan keuangan yang baik adalah laporan keuangan yang dapat diandalkan, yaitu laporan keuangan yang menyajikan secara jujur posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kasnya, dapat menggambarkan substansi ekonomi dari suatu kejadian atau transaksi; laporan keuangan disajikan dengan netral yang bebas dari keberpihakan; laporan keuangan mencerminkan prinsip kehati-hatian; dan laporan keuangan harus mencakup semua hal yang material.

Laporan keuangan pondok pesantren disajikan dalam Bahasa Indonesia dengan satuan mata uang rupiah secara tahunan berdasarkan tahun hijriah atau masehi. Jika terdapat transaksi pondok pesantren yang menggunakan mata uanng selain rupiah, maka harus dibukukan dengan menggunakan kurs transaksi. Saldo aset dan liabilitas dalam mata uang asing dijabarkan ke dalam rupiah menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal pelaporan. Dalam hal yayasan pondok pesantren baru berdiri, maka laporan keuangan dapat disajikan untuk periode yang lebih pendek dari satu tahun.